Rabu, 01 Februari 2012

Drama Korea yang Spektakuler

Dong Yi Jewel In The Crown merupakan salah satu Drama Korea yg sempat menarik perhatian gue. Dong Yi ini merupakan Drama Korea yg saat ini sedang ditayangkan di salah satu Televisi swasta di Indonesia ( Indosiar ) yang tayang pada pukul 12.00 – 13.30 WIB pada hari senin sampai jumat yang terdiri dari 60 episode. Meskipun tidak se-spektakuler drama korea Dae Jang Geum ( Tau kan filmnya?? ) tetapi menurut gue ceritanya juga manarik dan menyenangkan untuk diikuti. Teman – teman pada nonton gak?? Ceritanya bagus lhoooo.... gara – gara TV di kosan gue lgi rusyak, gue hanya bisa nonton sampai di episode 36 saja. Buat menghilangkan rasa penasaran gue akan kelanjutan ceritanya di episode - epdisode selanjutnya gue baca sinopsisnya pada setiap episode. Sehingga gue sudah tau duluan jalan ceritanya sampai tamat sebelum cerita yang ditayangkan di Televisi selesai sampai di episode 60.
Drama satu ini menurut gue memang istimewa karena tidak terlalu menonjolkan romantisme percintaan seperti Dorama atau drama korea pada umumnya. Intrik – intrik istana, strategi politik, dan juga cara mengungkap kasus – kasus kejahatan layaknya seorang detektif lebih ditonjolkan dalam drama ini. Drama ini merupakan cerita tentang sejarah kuno pada masa dinasti Joseon, tepatnya pada masa pemerintahan raja Sukjon ( diperankan oleh aktor korea Ji Jin Hee). Raja ini memiliki permaisuri Ratu Inhyeon (diperankan oleh aktris korea Park Ha-sun). Namun juga memiliki seorang selir yang bernama Lady Jang dan kemudian dapat gelar Jang Hee Bin ( diperankan oleh Le So- Yeon). Ratu Inhyeon ini sangat baik hati, tidak sperti selir Jang Hee Bin yang serakah dan haus akn kekuasaan dan akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan orang yang menghalangi ambisinya.

Jumat, 27 Januari 2012

Penyakit Kawasaki Hadir di Indonesia

Copas dari tetangga sebelah ( Dr Najib Advani, SpA (K), MMed (Paed) )
Apakah itu Penyakit Kawasaki...??? 
Penyakit Kawasaki ( PK ) ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967 dan saat itu dikenal sebagaimucocutaneous lymphnode syndromeUntuk menghormati penemunya, maka dinamakan penyakit kawasaki. Di Indonesia, banyak di antara kita yang belum memahami penyakit yang berbahaya ini, bahkan di kalangan medis sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan diagnosis acap terlambat dengan segala konsekuensinya. 
Penampakan penyakit ini juga dapat mengelabui mata sehingga dapat terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong. Penyakit yang lebih sering menyerang ras Mongol ini terutama menyerang balita dan paling sering pada anak usia 1-2 tahun. 
Angka kejadian per tahun di Jepang tertinggi di dunia, yaitu berkisar 1 kasus per 1.000 anak balita, disusul Korea dan Taiwan. Di Amerika Serikat berkisar 0,09 (pada ras kulit putih) sampai 0,32 (pada keturunan Asia-Pasifik) per seribu balita.  Di Indonesia, penulis menemukan kasus PK sejak tahun 1996, tapi ada dokter yang menyatakan sudah menemukan sebelumnya. 
Indonesia baru resmi tercatat dalam peta penyakit kawasaki dunia setelah laporan seri kasus PK dari Advani dkk diajukan pada simposium internasional penyakit kawasaki ke-8 di San Diego, AS, awal tahun 2005. Diduga, kasus di Indonesia tidaklah sedikit dan menurut perhitungan kasar, berdasarkan angka kejadian global dan etnis di negara kita, tiap tahun akan ada 3.300-6.600 kasus PK.
Namun kenyataannya kasus yang terdeteksi masih sangat jauh di bawah angka ini. Sekitar 20-40 persen-nya mengalami kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Sebagian akan sembuh  namun sebagian lain terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu. Sebagian kecil akan meninggal akibat kerusakan jantung.
Penyebab PK hingga saat ini belum diketahui, meski diduga kuat akibat suatu  infeksi, namun belum ada bukti yang meyakinkan. Karena itu cara pencegahannya juga belum diketahui.  Penyakit ini juga tidak terbukti  menular.

Minggu, 15 Januari 2012

Sebuah novel yang sangat inspiratif


Berjam – jam berada di Gramedia hanya untuk membaca - baca buku saja bukan untuk membeli buku merupakan hal yang sangat menyenangkan. Hal itulah yang saya lakukan ketika hasrat ingin membaca saya sedang bergejolak. Beberapa minggu yang lalu saya sempat bolak - balik ke Gramedia hanya untuk menyelesaikan membaca novel goresan tangan Kang Abik yang berjudul Cinta Suci Zahrana. Setelah 3 kali ke Gramedia tak perlu lagi saya harus bolak – balik lagi ke Gramedia karena ada orang yang buaik hati buanget ngasih saya Novel tersebut. Dua hari setelah Novel tersebut berada ditangan saya akhirnya selesai juga saya membaca novelnya,Alhamdulillah. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada orang yang sudah berbaik hati membelikan saya Novel ini. 
Jalan kehidupan tak mungkin satu jalan saja. Ada berbagai jalan yang bisa ditempuh. Adakala manusia memilih jalan yang lusuh dan bernoda. Ada pula yang memilih jalan bersih nan suci. Terkadang terasa mudah dan lapang jalan itu dilewati. Terkadang pula terjal berliku. Dan, rasanya manusia tak mungkin sanggup meniti jalan panjang itu seorang diri. Butuh sosok pendamping yang diharapkan dapat mengiringi setiap episode jalan kehidupannya. Dan, selama penantian itu, manusia haruslah tetap melangkah. Lagi-lagi, manusia dihadapkan pada pilihan. Melewati masa penantian itu dengan nista, ataukah dengan ksatria.
Salah satu kesan saya usai membaca novel “Cinta Suci Zahrana” karya Habiburrhman El-Shirazi (Kang Abik), betapa dilemanya seorang gadis berprestasi saat dihadapkan pada pilihan mengejar cita-cita dan karir atau Cinta. Diakui, lingkungan sosiologis kita masih berpandangan, bahwa priosritas seorang perempuan menjadi ibu dari anak-anak di samping isteri dari seorang suami. Setinggi apapun prestasi yang diraih, rasanya belum afdol bila kehidupan pribadi termasuk cintanya tidak sukses (Hadeeeh...).