Berjam – jam berada di Gramedia hanya untuk membaca - baca buku saja bukan untuk membeli buku merupakan hal yang sangat menyenangkan. Hal itulah yang saya lakukan ketika hasrat ingin membaca saya sedang bergejolak. Beberapa minggu yang lalu saya sempat bolak - balik ke Gramedia hanya untuk menyelesaikan membaca novel goresan tangan Kang Abik yang berjudul Cinta Suci Zahrana. Setelah 3 kali ke Gramedia tak perlu lagi saya harus bolak – balik lagi ke Gramedia karena ada orang yang buaik hati buanget ngasih saya Novel tersebut. Dua hari setelah Novel tersebut berada ditangan saya akhirnya selesai juga saya membaca novelnya,Alhamdulillah. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada orang yang sudah berbaik hati membelikan saya Novel ini.
Jalan kehidupan tak mungkin satu jalan saja. Ada berbagai jalan yang bisa ditempuh. Adakala manusia memilih jalan yang lusuh dan bernoda. Ada pula yang memilih jalan bersih nan suci. Terkadang terasa mudah dan lapang jalan itu dilewati. Terkadang pula terjal berliku. Dan, rasanya manusia tak mungkin sanggup meniti jalan panjang itu seorang diri. Butuh sosok pendamping yang diharapkan dapat mengiringi setiap episode jalan kehidupannya. Dan, selama penantian itu, manusia haruslah tetap melangkah. Lagi-lagi, manusia dihadapkan pada pilihan. Melewati masa penantian itu dengan nista, ataukah dengan ksatria.
Salah satu kesan saya usai membaca novel “Cinta Suci Zahrana” karya Habiburrhman El-Shirazi (Kang Abik), betapa dilemanya seorang gadis berprestasi saat dihadapkan pada pilihan mengejar cita-cita dan karir atau Cinta. Diakui, lingkungan sosiologis kita masih berpandangan, bahwa priosritas seorang perempuan menjadi ibu dari anak-anak di samping isteri dari seorang suami. Setinggi apapun prestasi yang diraih, rasanya belum afdol bila kehidupan pribadi termasuk cintanya tidak sukses (Hadeeeh...).
Siti Zahrana merupakan Dosen Universitas Mangunkarsa Semarang. Dia adalah sosok gadis ambisius dan memiliki talenta luar biasa dalam bidang akademik. Ia terlahir dari keluarga biasa-biasa, ayah seorang PNS golongan rendah di kelurahan. Zahrana berhasil menyelesaikan S1 di Fakultas Teknik UGM Jogjakarta dan S2 di ITB.
Nama Zahrana mendunia karena karya tulisnya dimuat di jurnal ilmiah RMIT Melbourne. Dari karya tulis itu, Zahrana meraih penghargaan prestisius Tsinghua International Award bidang arsitektur dari Thinghua University, sebuah universitas ternama di China. Ia pun terbang ke negeri Tirai Bambu untuk menghadiri acara penyerahan penghargaan itu sekaligus menyampaikan pidato disana. Di hadapan puluhan profesor arsitek kelas dunia, ia memaparkan arsitektur bertema budaya. Yang ia tawarkan arsitektur model kerajaan Jawa-Islam dahulu kala. Dari Thinghua University, Zahrana mendapat tawaran beasiswa untuk studi S3 di samping mendapat tawaran pengerjaan sebuah proyek besar.
Namun Zahrana tidak hidup sendiri. Di tengah kesuksesan prestasi akademiknya, ia malah menjadi bahan kecemasan kedua orang tuanya. Kecemasan itu lantaran Zahrana belum juga menikah di usianya yang memasuki kepala tiga. Sudah banyak laki-laki yang meminangnya, namun Zahrana menolaknya dengan halus.
Di sinilah konflik batin Zahrana mulai timbul, antara menuruti keinginan orang tuanya agar segera menikah atau mengejar cita-citanya. Sebenarnya Zahrana sudah mengalah pada orang tuanya dengan tidak menerima tawaran untuk menjadi dosen di UGM. Alasannya karena orang tuanya yang tinggal di Semarang tidak mau jauh. Zahranapun memilih mengajar di sebuah universitas swasta di Semarang yaitu Universitas Mangunkarsa dan Ia tetap bisa tinggal bersama orang tuanya. Zahrana juga mengalah pada orang tuanya hingga ia tidak mengambil tawaran beasiswa S3 di negeri China.
Meski tak otoriter, kedua orang tua Zahrana berharap anak satu-satunya itu segera menikah dan memiliki keturunan. Sebagai orang tua yang sudah renta, khawatir semasa hidupnya tidak sempat menyaksikan Zahrana bersuami dan menimang cucu. Apalagi bila melihat anak-anak tetangga seusia Zahrana, mereka sudah memiliki anak dua bahkan tiga.
Sebenarnya dalam jiwa perempuan Zahrana, bukan tidak menghiraukan keinginan berumah tangga. Tetapi logika analitisnya selalu berargumen, menikah hanya menunda-nunda sukses bahkan bisa menghalanginya (Red, Garis bawah, cetak miring.hahaha....).
Sudah banyak pria yang dijodohkan atau bahkan telah melamarnya. Namun Zahrana tidak menghendakinya. Puncak konflik batin Zahrana ketika dilamar oleh seorang duda yang notabene atasannya sendiri yaitu, H. Sukarman, M.Sc. dekan Fakultas Teknik dan Arsitektur Universitas Mangunkarsa Semarang. Ia dilamar dekannya, begitu kembali dari Thinghua University sehabis menerima penghargaan. Pak Karman yang berstatus duda, Genit dan suka main perempuan. Ternyata tak mudah bagi Zahrana menolaknya lamaran itu, meski dengan segala alasan keburukan yang dimiliki Pak Karman. Terlebih lagi jika kedua orangtua Zahrana dijadikan akan dihajikan oleh Pak Karman bila pernikahan itu jadi dilangsungkan.
Penolakan lamaran itu ternyata berbuntut panjang. Bahkan Zahrana harus mengundurkan diri dari dosen di universitas tersebut. Sedangkan Pak Karman terus melontarkan teror sms kepada Zahrana.
Dengan tegas, Zahrana tidak menerima lamaran atasannya itu meski orang tuanya kecewa. Alasan Zahrana semata-mata persoalan moral atasannya yang terkenal suka meminta setoran kepada mahasiswa bila ingin nilai bagus bahkan suka bermain cinta dengan mahasiswanya sendiri. Di samping alasan moral, Zahrana tak mungkin menerima lamaran atasanya yang berusia kepala lima.
Akibat menolak lamaran itu, Zahrana akan dipecat secara tidak hormat. Tetapi Zahrana mendahuli mengajukan pengunduran diri. Ia benar-benar hengkang dari kampus itu dan memilih mengajar di sebuah sekolah kejuruan teknik.
Pasca lamaran, Zahrana sadar, ia harus cepat-cepat bersuami karena usianya sudah 34 tahun. Hati Zahrana berargumen lain, bisa saja dirinya melanjutkan cita-cita di dunia kademik meski sudah bersuami. Ia pun minta saran kepada pimpinan pondok pesantren yang masih saudara jauh teman akrabnya. Oleh pimpinan pondok pesantren Zahrana dipertemukan seorang pemuda yang dari sisi pekerjaan kurang prestisius. Pemuda itu pedagang kerupuk keliling dan Zahrana merasa cocok. Ia bertekad mengabdikan hidupnya kepada Allah melalui ibadah dalam rumah tangga.
Kedua belah kelurga menyiapkan pesta pernikahan sederhana. Zahrana menyiapkan gaun pengantin. Bahagia sekali hati Zahrana. Ia meyakinkan diri tak lama lagi akan bersuami yang salih. Ia membayangkan esok hari, kisah penantian ini akan segera berganti.
Namun bayangan itu sirna seketika saat menerima kabar calon suaminya meninggal, tertabrak Kereta Api yang tak jauh dari perkampungan. Saat itu pula Zahrana merasa sudah mati. Bayangan indah kini berganti dengan kabut tebal yang dipenuhi hantu kematian yang siap mencabik-cabik dirinya. Bunga-bunga cinta di hatinya, kini berganti dengan bunga kematian. Langitpun runtuh dan serasa menindihnya. Zahrana pingsan beberap kali hingga dilarikan ke rumah sakit. Beruntung Zahrana masih kuat melanjutkan hidup.
Beberapa hari pascatragedi, ia hanya di rumah sambil menekuri diri. Sahabat-sahabat dan kerabatnya banyak yang berdatangan untuk sekedar mengucapkan duka cita termasuk teman-teman dan atasanya di kampus dulu mengajar.
Salah seorang penjenguk, dokter perempuan yang sempat mengobatinya saat di rumah sakit. Perempuan itu ternyata ibunya mahasiswa bernama Hasan yang sekripsinya sempat dia bimbing selama di bangku kuliah. Rupanya kedatangan ibu dokter ini sekaligus mengobati luka cinta Zahrana.
Ibu dokter ternyata mengabarkan bahwa anaknya, Hasan, yang kini berusia 29 tahun, berniat menikahinya. Betapa kaget dan bahagianya Zahrana. Seolah tak peracaya dengan nasibnya yang begitu bergelombang. Meski ragu menerima lamaran itu, Zahrana menyampaikan satu syarat. Bila anak ibu dokter benar meminangnya, ia minta agar pernikahannya nanti malam setelah shalat tarawih. Ia sangat trauma dengan tragedi yang menimpa satu malam menjelang pernikahannya dulu. Setelah dialog cukup panjang, tawaran itu diterima ibu dokter. Tepat jam tujuh malam, mereka melangsungkan pernikahan suci di masjid yang disaksikan para jamaah shalat tarawih. Malam pertama di bulan Ramadhan yang indah menandakan berakhirnya penderitaan Zahrana. Ia menyempurnakan hidupnya dengan mencurahkan cinta sucinya. Pada akhirnya pasca pernikahanya Zahrana beserta Suami mendapat beasiswa progam Doktoral S3 di Tsing Hua University Cina.Slesaaaaaiiiiii........
gek ndang...27 itu kelamaan...hahaha
BalasHapusayo update lagi blognya...ditunggu postingn2 berikutnya..