Sabtu, 23 November 2013

Curcolan Perawat Gantheng


Sedih rasanya sebagai seorang praktisi kesehatan saat melihat berita di media yang menayangkan pemberitaan miring dan menyudutkan seputar pelayanan kesehatan. Pemberitaan – pemberitaan tersebut membuat masyarakat awam terdoktrin pikiran negatif mengenai pelayanan kesehatan. Terkadang tergerak ingin melakukan pembelaan namun siapalah kita dan apa daya kita. Masih ingat mengenai kasus bayi malang Dera Nur Anggraini yang meninggal dunia setelah ditolak sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan perawatan??? Kasus yang sempat ramai dibicarakan di media masa tersebut sempat menuai beragam komnetar dari kalangan masyarakat. Ada yang mau mencopot direktur Rumah Sakit yg telah menolak Bayi Dera, ada juga yang menerangkan bahwa kasus Dera ini adalah masalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM), ada pula yang meminta perhatian pemerintah untuk melengkapi fasilitas rumah sakit, agar kasus Dera tidak terulang kembali. Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit memberikan gambaran mengenai sikon di rumah sakit sebagai sedikit pencerahan bagi masyarakat agar tidak termakan berita/isu negative secara mentah – mentah yang ditayangkan oknum oleh media.
Coba Bayangkan kalo pasien dgn metode pembayaran jaminan (KJS, Jamkesmas, Jamkesda, Gakin, JPS,dll), dtg saat kondisi RS overlode pasien, bed full. Kalo petugas RS bilang penuh, nanti disangka nolak pasien karena pembayaranya Jaminan. Klo emang pasienya overloade, mungkin akan dimotivasi pindah ke RS lain bila kondisi memungkinkan. Atau kalau memang mau tetep dilanjutin dirawat di RS tersebut alternatif lain nunggu ruang rawat, ngantri masuk ruangan, pasien sementara ditaruh dimana aja asal tetep mendapat perawatan. Dengan alternatif seperti itu nanti dibilang, pasien ditelantarkan di IGD gara-gara pasien pembayarannya dengsn jaminan, padahal udah infus udah masuk obat tinggal observasi aja. Ada lagi pasien dengan jaminan datang ke UGD dgn kondisi yang sudah buruk. Pasian Dipasang infus, dikasih makan, diobservasi, bahkan bisa dimasukkan ke rawat inap. Kalo tidak layani, tidak mungkin sampai ke rawat inap. Itu kan namanya diobati, dilayani. selama beberapa hari kondisi sempat membaik namun pada akhirnya pasien tetap tidak bisa diselamatkan, pasien meninggal. RS lagi yang disalahkan,muncul lgi pemberitaan di media, "karena pasien jaminan pihak RS lamban menangani pasien dan tidak maksimal menangani pasien hingga pasiennya meninggal".
Seolah - olah pasien yang sudah masuk di RS itu berarti PASIEN DILARANG MENINGGAL. hellow... paramedis itu manusia chuy yang tidak berwenang atas kematian, tidak bisa menentang Kuasa Tuhan. Kematian itu urusan Tuhan, kita paramedis hanya bisa mngusahakan memberikan pertolongan semaksimal mungkin buat menyelamatkan dari kematian, tapi kalau Tuhan berkendak lain?? apa mau dikata?? paramedis dan RSnya yang dikata disalahkan???? ouwyeah.... Paramedis di RS jumlahnya terbatas kerjanya dah peng2an habis2an, dan tidak diperbolehkan nolak pasien, kalo nolak pasien RSnya diancam ditutup, padahal kalo ditutup apa gak bakal merugikan masyarakat banget ya. Kalo ditutup, coba anda bayangkan sendiri saudara saudara bagaimana dampaknya? Berapa banyak lagi pasien yang tidak tertangani? jadi tolonglah temen2 wartawan media kalau menyampaikan berita di media itu sesuai fakta yang sebenarnya jangan diluwebay2kan, jangan memperkeruh sesuatu yang memang belum jernih.
Itulah sedikit mengenai gambaran pelayanan di RS yang mungkin juga perlu diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat awam juga bisa memahami kenapa sering kali muncul berita miring di media mengenai pelayanan kesehatan. Bukan merupakan pembelaan, namun hanya sedikit pencerahan bagi masyarakat agar tidak hanya termakan berita/isu negative secara mentah – mentah sehingga dapat merugikan kedua belah pihak baik dari pihak rumah sakit maupun dari pihak masyarakat yang termakan berita itu sehingga menurunkan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan.
Kemudian sedikit pesan buat temen – temen sejawat yang bekerja di pelayanan kesehatan Rumah Sakit, mau pasien umum ataupun pasien jaminan, berikan pelayanan yang sama pada mereka (pasien), jangan membeda2kan dalam memberikan pelayanan pada pasien karena masalah perbedaan metode pembayaran. Masalah pembayaran itu urusan pasien dengan RS, Urusan anda adalah memberikan peleyanan dgn baik. Mau pasien umum atau pasien jaminan toh nantinya biayanya juga bakal dibayar kan??? hanya saja metode pembayarannya aja yang berbeda. Jangan mempersulit orang yang sedang dalam kesulitan. Ingat, anda bekerja itu digaji buat memberikan pelayanan yang baik. jadi, jadilah pekerja yang bertanggungjawab dengan pekerjaan anda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar