Sabtu, 23 November 2013

Kuli Intelek Berseragam Putih-Putih Korban Politik Pencitraan


Kadang seperti ada rasa kekecewaan menjadi seorang Tenaga kesehatan ( Perawat ), bukan masalah gaji yang diterima atau beban kerja yang harus ditanggung. Tapi lebih pada masalah tugas dan fungsi sebagai tenaga kesehatan yang seharusnya totalitas mengabdi pada masayarakat namun dibenturkan dengan kepentingan politik sejumlah politikus, pemimpin daerah bahkan pemimpin negara sekalipun. Entah mereka sadari atau tidak akan hal tersebut. Semua orang tahu bahwa saat ini Indonesia memilih langsung para calon pemimpinnya baik tingkat daerah kabupaten, gubernur hingga presiden. Masing-masing calon mempunyai program andalan yang dirasa paling baik dan mampu menarik minat pemilih (masyarakat). Program yang kadang tidak rasional dan masuk akal berani mereka janjikan guna memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan. Yang ada di pikiran mereka yang penting terpilih dulu, pasalnya nanti bisa merealisasikan janji-janjinya itu urusan belakangan.

Program yang selalu jadi primadona andalan para politikus untuk menarik minat para pemilih yang paling banyak dijanjikan adalah ” program kesehatan / berobat gratis dan program pendidikan / sekolah gratis”. Setuju memang kalau sudah selayaknya masyarakat Indonesia mendapatkan pengobatan dan sekolah gratis apalagi bagi masyarakat yang kurang mampu. Cara-cara seperti itu memungkinkan untuk penguasa mencari simpati dan dukungan. Dibawah keterpurukan dan kemiskinan yang melanda rakyat pemberian janji-janji semacam itu seperti memberikan angin surga dimana akhirnya timbul simpati dari rakyat kecil.

Fakta dilapangan tidaklah seindah itu, ketika orang dijanjikan mendapatkan pengobatan gratis sementara jumlah tenaga kesehatan minim, fasilitas dan sarana prasarana pendukung tidak memadai akhirnya banyak masyarakat calon pasien menjadi kecewa karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan memuaskan. 

Janji pengobatan gratis oleh penguasa yang sangat kental dengan nuansa politik pencitraan dalam pelaksanaanya dilapangan sangat berkebalikan dengan apa yang mereka janjikan. Karena upaya untuk pemenuhan janji-janji tersebut membutuhkan dana yang sangat besar dan tidak sedikit sementara anggaran pendapatan belanja negara yang digelontorkan bagi pelayanan kesehatan masyarakat miskin sangat rendah. Akhirnya berujung pada pelayanan kesehatan menjadi tidak maksimal yang berujung pada kekecewaan pasien / masyarakat.

Kekecewaan dan ketidak puasan semacam itu bisa kita lihat contohnya didalam pemberitaan-pemberitaan di media massa mengenai kinerja tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan. Berapa banyak pemberitaan media yang mengatakan pasien miskin ditolak karena rumah sakit penuh? walaupun kenyataannya memang penuh. Berapa banyak media yang memberitakan tentang kinerja tenaga kesehatan Indonesia yang buruk? walaupun kenyataanya memang fasilitas dan sistemnya buruk. Sangat banyak! Bahkan tidak pernah saya mendengar berita positif tentang pelayanan seorang tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan rumah sakit di media massa. Sepertinya berita negatif seputar tenaga kesehatan indonesia lebih menarik dan menjual untuk diberitakan ketimbang berita-berita yang positif.

Politik pencitraan yang dilakukan penguasa memang boleh dibilang sangat bagus khususnya bagi kesuksesan pencalonan mereka. Tapi yang terjadi sebenarnya mereka sedang meng-adu domba kami tenaga kesehatan dengan masyarakat sebagai pasien yang setiap hari bersinggungan langsung dgn kami. Penguasa tidak pernah tahu bagaimana kami bekerja dan mereka penguasa juga tak pernah tahu secara persis keluh kesah para pasien mengenai pelayanan kesehatan.

Dalam pelakasanaan pelayanan kesehatan yang penguasa tahu dari politik pencitraan mereka adalah yang penting Progam pengobatan gratis jalan, rakyat senang, bodo amat kalau ternyata banyak masalah yang mendera karena pada akhirnya yang berbenturan langsung dilapangan juga nantinya bukan para politikus /pembuat kebijakan, tapi yang berhadapan langsung adalah “ Tenaga kesehatan VS Pasien ”. Akhirnya masyarakat memandang bahwa buruknya layanan kesehatan ini ya karena dokternya, karena perawat, bidan atau rumah sakitnya, tapi pasien / masyarakat tidak pernah mencari sumber kekacauannya sebenarnya itu ada dimana.

Bagaimana mungkin kita (para pelayan medis) ini bisa bekerja dengan baik dan maksimal jika fasilitas, sarana dan prasarana yang mendukung bagi berlangsungnya pelayanan kesehatan masyarakat tidak memadai? bagaimana mungkin para tenaga kesehatan ini bisa bekerja dengan tenang, ikhlas mengabdi jika kesejahteraan mereka dan keluarganya sendiri tidak diperhatikan pemerintah? walaupun tenaga medis syarat dengan kerja sosial tapi bukan berarti kami tidak butuh makan atau uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat juga harus tahu bahwasanya gaji tenaga kesehatan itu tidak sebesar yang mungkin orang bayangkan selama ini. Sementara gaji sopir busway sudah mencapai 7 juta, gaji buruh di jakarta bisa mencapai 3 juta. Bukannya mau membanding-bandingkan, tapi dari tingkat pendidikan, lamanya menempuh pendidikan, dan mahalnya biaya pendidikan yang harus dijalankan oleh seorang tenaga kesehatan tentunya bisa dibilang sangat tidak adil. Dengan beban berat tugas dan kewajiban yang sama-sama harus ditanggung, faktor resiko tertular penyakit yang besar, dan bekerja dalam tekanan karena dihadapkan dengan nyawa seseorang tentunya penghasilan kecil semacam itu terkesan mencederai niat dan ketulusan untuk mengabdi pada masyarakat.

Perlu juga masyarakat tahu, mengabdi memang tidak selayaknya menuntut atau mempersalahkan gaji. Jangan juga dipikir semua tenaga kesehatan itu kaya, karena bisa dibilang mungkin kekayaan mereka sudah dihabiskan untuk menuntut ilmu di bangku kuliah karena luar biasa mahalnya biaya kuliah tenaga kesehatan di negara kita. Jadi jika saat ini mereka bekerja itu lebih karena kita juga butuh penghidupan yang layak bagi keluarga, anak-istri bahkan untuk orang tua yang membiayai kuliah kita sehingga juga ada keinginan untuk mengangkat derajat mereka dan bukan sekedar keinginan mengabdi saja.

Itulah sekelumit gambaran tentang “politik pencitraan” di Negeri ini yang berimbas pada tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan. Bisa dibilang tenaga kesehatan tak lebih hanya sekedar seorang kuli intelek yang bekerja dalam balutan seragam putih - putih yang suci, namun rawan tertular infeksi, dicaci dan dibenci masyarakat yang kecewa ketika mereka tidak puas dilayani. Semoga masyarakat memaafkan kami ketika pelayanan kami belum bisa maksimal karena berbagai keterbatasan dan kekurangan dalam pelaksanaan sistem kesehatan dinegara kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar